Selasa, 31 Maret 2020

FILE RPP dan lain lain

untuk mendownload silahkan klik dibawah.. untuk password silahkan melampirkan email di kolom komentar

donwload

Selasa, 03 Desember 2019

Kunjungan depot di Valencia dan kemajuan


Kunjungan dan survey ke depot air di mendalo ( kemajuan dan Valencia

Bagaimana cara pembunuhan kuman pada pengolahan air minum isi ulang?
Jawaban :
Berdasarkan hasil survey yang telah saya lakukan dibeberapa depot air minum isi ulang yang berada di Mendalo yaitu Kemajuan dan Valencia. Pada depot pertama didaerah kemajuan menggunakan air baku berupa air sumur bor. Sedangkan depot kedua di daerah Valencia menggunakan air baku berupa air PDAM.
Untuk cara pembunuhan kuman pada kedua depot tersebut menggunakan bantuan sinar UV(Ultraviolet). Dimana cara kerja alat sinar UV ialah ketika sinar ultraviolet melepaskan foton yang diserap oleh DNA mikroorganisme yang menyebabkan kerusakan DNA sehingga proses replikasi DNA akan terhambat. Pada keadaan ini, mikroorganisme akan mati secara perlahan karena tidak dapat mengatur metabolisme sel dan tidak dapat berkembang biak.

Apa saja informasi yang telah kami dapatkan?

2.      Berapa pH air didepot tersebut dan bagaimana cara pengaturannya?
Jawaban :
Hasil Uji Laboratorium salah satu depot
Depot ke-
Daerah
pH
1
Kemajuan
7,2
2
Valencia
6,9

Untuk cara pengukuran dan pengaturan pH, para pemilik depot tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara pengukurannya menggunakan bahan apa. Namun pemilik mengatakan pengukuran pH dilakukan oleh pihak BPOM yang dilakukan setiap 6 bulan sekali.

3.      Apa saja Mineral yang terkandung didalam air gallon dan fungsi dari masing-masing mineral?
Jawaban :
Filter Air


a.      KALSIUM
Fungsinya:
Menjaga kesehatan tulang dan gigi
Memiliki peran penting dalam proses kontraksi
Memiliki peran dalam relaksasi otot dan pembekuan darah
Menunjang imunitas tubuh

b.      SODIUM
Fungsinya:
Menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh
Berperan sebagai alat angkut zat gizi
Menopang transmisi saraf, absorpsi glukosa dan kontraksi otot

c.       KALIUM
Fungsinya:
Membantu pembentukan organ dalam tubuh dan jaringan
Membantu pembentukan sel

d.      BIKARBONAT
Fungsinya:
Mendukung proses pencernaan dalam perut
Memelihara keseimbangan keasaman darah

e.       FLUORIDA
Fungsinya:
Menjaga kekuatan tulang
Menjaga gigi dari pembentukan karies

f.       NATRIUM
Fungsinya:
Menjaga keseimbangan cairan tubuh

g.      ZINC
Fungsinya:
Membantu kerja enzim dalam tubuh
Menjaga daya tahan tubuh dan fungsi saraf otak

h.      MAGNESIUM
Fungsinya:
Sebagai zat pembentuk sel darah merah

Rabu, 23 Oktober 2019

Pemanasan Global

apakah anda pernah merasakan bahwa teriknya matahari pada siang hari pada tahun 2003 dengan tahun 2019 ini berbeda? manakah Yang lebih panas?


ya.. tepat sekali pada tahun 2019 inilah yang lebih panas. Lalu, mengapa hal itu terjadi? yuk kita bahas...

apakah anda sering mendengar kata Pemanasan Global ? apa sih pemanasan global tu? 

  • kata Wikipedia Pemanasan Global ialah proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. 
  • kata lingkungan hidup.co Pemanasan Global adalah kondisi peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih. 
  • kata studio belajar Pemanasan Global adalah memanasnya iklim bumi secara umum.
nah dari ketiga sumber tersebut dapat kita simpulkan bahwa Pemanasan Global adalah naiknya/ meningkatnya derajat kepanasan yang tejadi pada atmosfer, permukaan bumi dan juga laut akibat gas rumah kaca yang berlebih. 

lalu apa saja gas rumah kaca itu? gas rumah kaca adalah penyumbang terbesar dari pemanasan global ini. apa saja bentuk kontribusi gas rumah kaca?  setiap penyebab bertambahnya efek rumah kaca juga berkontribusi langsung terhadap pemanasan global seperti:
  1. Sumber energi. Pembangkit listrik terbesar adalah dengan menggunakan batu bara dan minyak bumi.
  2. Transportasi. Karena kendaraan menggunakan bahan bakar fosil, maka gas yang dihasilkan adalah berupa CO2  . gas ini juga merupakan penyumbang dari pemanasa global.
  3. Industi ternak sapi. Hal ini yang dimaksud adalah gas yang dibuang oleh sapi yaitu metana yang merupakan dampak dari pemanasan global
  4. Industri Pertanian. Pupuk yang digunakan melepas gas nitrous oksida yang merupakan dampak dari pemanasan global
  5. limbah indsutri dan rumah tangga. 

Mengukur Kebisingan di Jalan Raya

Kebisingan merupakan tingkat bunyi yang tidak dikehendaki, merupakaan sumber bahaya.
pada kali ini dilakukan pengukuran di tepi jalan raya.

untuk menentukan kebisingan dapat ditentukan dengan rumus :


Ket: Leq = Tingkat kebisingan ekivalen
N = Jumlah total sampel
ni = Tingkatan sampel
Li = SPL sampel ke i

hasil data

5 74
10 72
15 68
20 69
25 68
30 64
35 66
40 73
45 72
50 65
55 71
60 73
65 72
70 70
75 75
80 79
85 70
90 70
95 67
100 75
105 69
110 76
115 78
120 70
125 68
130 66
135 59
140 63
145 68
150 68
155 73
160 69
165 74
170 71
175 67
180 70
185 77
190 74
195 74
200 70
205 69
210 66
215 74
220 72
225 67
230 71
235 78
240 69
245 69
250 79
255 76
260 70
265 77
270 73
275 75
280 76
285 78
290 82
295 83
300 78

L20 = 83 dBA n = 1 L19 = 82 dBA n = 1 L18 = 79 dBA n = 2 L17 = 78 dBA n = 4 L16 = 77 dBA n = 2 L15 = 76 dBA n = 3 L14 = 75 dBA n = 3 L13 = 74 dBA n = 5 L12 = 73 dBA n = 4 L11 = 72 dBA n = 4 L10 = 71 dBA n = 3 L9 = 70 dBA n = 7 L8 = 69 dBA n = 6 L7 = 68 dBA n = 5 L6 = 67 dBA n = 3 L5 = 66 dBA n = 3 L4 = 65 dBA n = 1 L3 = 64 dBA n = 1 L2 = 63 dBA n = 1 L1 = 59 dBA n = 1

Leq= 10 Log [ . 1 60 (2614806879)]
      = 10 Log (43580114, 6)
      = 76, 39 dB


Mengukur Intensitas Cahaya Pada Ruang Belajar


Sumber : Goggle

terlihat pada tabel bahwa pada ruang kerja/ belajar, tingkat pencahyaan yang diperlukan ialah sekitar 120-205 lux. nah pada kali ini saya akan mencoba mengukur intensitas pada ruangan dimana saya belajar.

Percobaan Pertama

Percobaan 2

Percobaan 3
dari ketiga percobaan tersebut nilau rata-rata lux adalah (14+17+16)/3 yaitu 15,67. hasil yang diperoleh sangat jauh berbeda dengan standar yang diharapkan. hasil yang diperoleh hanya ((120-15,67)/120)x 100% = 0,87% dari standar yang diharapkan

Rabu, 02 Oktober 2019

Reklamasi dan Rehabilitasi Tanah Akibat Tsunami


 Reklamasi dan Rehabilitasi Tanah Akibat Tsunami


  
           Kecamatan Lhoknga adalah wilayah kabupaten Aceh Besar yang pada saat 26 Desember 2004 silam yang mengalami tsunami besar. Tsuanami tersebut termasuk kategori wilayah kerusakan yang parah dengan intensitas kerusakan antara 60-75%. Sebagian besar areal pertanian terutama lahan persawahan, peka-rangan, dan tegalan, tidak dapat difungsikan lagi karena telah tertimbun oleh sampah dan sedimen serta bahan-bahan reruntuhan Gedung atau perumahan. Masalah utama yang berhubungan dengan kualitas lahan yang terkena dampak tsunami adalah meningkatnya salinitas tanah, ketebalan sedimen, menurunnya kualitas air, dan buruknya sistem sanitasi lingkungan. hasil investigasi terhadap dampak dan analisis sifat-sifat tanah, maka pola pemanfaatan lahan pertanian di Kecamatan Lhoknga dapat diarahkan sebagai berikut :

Lahan Kelas A (Low damaged area)
Kelas ini memiliki skor di bawah 8. Lahan dengan kelas ini dianggap tidak ada masalah yang utama di dalam reklamasi. Pencucian garam dapat dilakukan dengan cepat melalui curah hujan atau melalui pengaliran air permukaan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lahan ini segera dapat dimanfaatkan kembali untuk lahan pertanian dalam waktu kurang dari 3 bulan tanpa intervensi yang berat.
Ø  Rehabilitas tanah : Untuk menurunkan dan mengurangi tingkat salinitas tanah dapat digunakan bahan amelioran seperti CaSO4, pupuk kandang, dan S elementer.
Lahan Kelas B (Medium damaged area)
Lahan dengan kelas ini memerlukan intervensi khusus dalam mereklamasi tanah untuk mengemba-likan sifat-sifat permukaan lahan (permukaan lahan, lumpur, sedimen). Pencucian garam memerlukan air dalam jumlah yang banyak baik melalui curah hujan atau pemanfaatan air dari sumber-sumber yang lain. Tanpa rehabilitasi, lahan ini praktis tidak dapat dimanfaatkan.

Ø  Rehabilitas Tanah : Lapisan sedimen peril dipertimbangkan untuk dibuang dari lapisan tanah atas; perlu pencucian garam pada lapisan atas dari profil tanah dengan air dari saluran irigasi dalam waktu dan jumlah air yang banyak; perlu pembuatan bedengan untuk penanaman agar memudahkan daam pengelolaan kelebihan garam/salinitas. Contoh penanaman yang disarankan adalah terong, cabai, kacang tanah, padi, rumput gajah, nenas dan kelapa.

Lahan Kelas C (Highly damaged area)
Untuk kategori ini terdapat banyak rintangan untuk memperbaikinya dan mungkin tidak dapat ditanam pada musim berikutnya. Pada beberapa kasus, pemanfaatan lahan ini perlu didiskusikan lebih lanjut untuk kemungkinan dilakukan konversi ke penggunaan lainnya atau perlu dicari alternatif yang lain atau reorientasi.
Ø  Rehabilitasi Tanah : perlu pencucian garam pada lapisan atas dari profil tanah dengan air dari saluran irigasi dalam waktu dan jumlah air yang banyak; perlu pembuatan bedengan untuk penanaman agar memudahkan daam pengelolaan kelebihan garam/salinitas; perlu dipertimbangkan konversi penggunaan ke bidang lain seperti usaha perikanan darat, atau tanaman keras yang toleran seperti mangrove atau kelapa

Berikut ini ialah rencana reklamasi atau rehabilitasi tanah (lahan) akibat tsunami di Aceh :

A. Untuk Tanaman Padi Sawah
Ø  Bersihkan permukaan lahan dari sampah dan kotoran yang tertimbun tsunami
Ø  Bagi lahan kepada petakan-petakan sawah seluas kira-kira 25 m x 50 m atau 1.250 m2 per petak.
Ø  Buat parit-parit pembuang sedalam 40 cm dengan lebar sekitar 30 cm di sekitar petakan sawah untuk pencucian garam pada permukaan lahan
Ø  Lakukan pencucian garam dengan mengalirkan air irigasi yang tersedia. Jumlah/volume kebutuhan pencucian garam dan lamanya genangan perlu diteliti lebih jauh di lapangan dengan menggunakan metode Leaching requirement (Ayers, 1994).
Ø  Pada lahan kelas B, pencucian dapat dilakukan berkali-kali, kemudian perlu diberi bahan amelioran berupa gipsum (CaSO4) dengan dosis berkisar antara 2,0-5,0 ton ha-1.
Ø  Setelah pencucian (ECs <0,50 mS cm-1), lakukan pengolahan tanah sesuai keperluan
Ø  Lahan siap ditanam, dan dianjurkan menggunakan padi yang toleran dengan lahan salin (mis. IR-64).

B. Untuk Tanaman Lahan Kering Setahun (Palawija)
Ø  Bersihkan permukaan lahan dari sampah dan kotoran yang tertimbun tsunami
Ø  Buat pematang/bedengan tanam dengan dimensi lebar 30-60 cm dan kedalaman sekitar 40 cm dengan panjang sekitar 40-50 m.
Ø  Alirkan air irigasi hingga menggenangi areal tanam/bedengan dan biarkan hingga semalam.
Ø  Besok harinya, keringkan areal untuk mencuci kelebihan garam pada lapisan permukaan lahan. Ulangi pencucian hingga salinitas < 0,50 mS cm-1.
Ø  Untuk mengefektifkan pencucian, tambahkan bahan amelioran gipsum (CaSO4) dengan dosis berkisar antara 2,0-5,0 ton ha-1.
Ø  Setelah pencucian (ECs <0,50 mS cm-1), lakukan pengolahan tanah
Ø  Lahan siap ditanam dan dianjurkan menggunakan tanaman-tanaman yang toleran dengan lahan salin (misal: terong, kapas, cabai, kacang tanah, ubi kayu, semangka, selada, bawang, dan sejenisnya).
C. Untuk Tanaman Lahan Kering Tahunan
Ø  Untuk tanaman tahunan yang toleran salinitas seperti kelapa, setelah dilakukan pembersihan lahan, tanaman ini siap ditanam dengan jarak tanam tertentu tanpa perlu upaya rehabilitasi/reklamasi.
Ø  Namun, jika diinginkan dengan tanaman yang tidak toleran, maka upaya reklamasi seperti pencucian, pemberian, gipsum (CaSO4), dan pupuk kandang tetap diperlukan.
Ø  Untuk tanaman mangrove, tidak perlu perbaikan lahan yang berarti kecuali pada teknis penanaman saja yang perlu disesuaikan. 


Terimakasih.. 

sumber : 
Syakur, Basri H., Sufardi & Hatta M. 2012. Sifat Tanah dan Air yang Terpengaruh Tsunami di Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Flotarek. (7). 1-12.

Rabu, 04 September 2019

HUJAN BUATAN



Bahan yang diperlukan untuk membuat hujan buatan adalah Urea, NaCl, dan CaCl.
  • Urea digunakan untuk mengumpulkan awan-awan kelompok kecil menjadi kelompok besar. 
              Urea + H2O —- ion-ion – 425 K Cal (endoterm)
  • NaCl dan CaCl adalah kumpula garam-garam itu di udara yang akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap atmosphere pada awan.
              NaCl + H2O —- ion-ion + 910 K Cal (eksoterm)
              CaCl2 + H2O — ion-ion + 915 K Cal (eksoterm)

Proses terbentuknya hujan buatan diawali dengan penaburan garam (NaCl dan CaCl) pada awan. tidak semua awan bisa ditaburkan agar bisa terjadi hujan buatan, hanya awan cumulus. Untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi. Garam-garaman seperti NaCl dan CaCl2 dalam bentuk bubuk dengan hole 10-50 mikron, ternyata cukup higroskopis jika disebarkan di udara. Garam-garam itu di udara akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap atmosphere pada awan. Pembentukan butir-butir atmosphere juga dapat dilakukan dengan penyebaran garam-garaman tersebut.Tindakan selanjutnya adalah penaburan bubuk urea yang dilakukan beberapa jam setelah penyebaran garam-garaman tadi atau setelah tumbuh awan-awan kecil secara berkelompok pada beberapa beberapa tempat. Bubuk urea selain dapat membentuk awan lebih lanjut, juga bersifat endotermi (menyerap panas) yang sangat baik bila bereaksi dengan atmosphere atau uap air. Penyebaran bubuk urea di siang hari dapat mendinginkan lingkungan sekitarnya sehingga kelompok-kelompok kecil awan segera bergabung menjadi kelompok-kelompok besar.

Agar tepat sasaran, penyebaran sebaiknya dilakukan pada ketinggian 4000-7000 kaki dan juga dengan perhitugan arah mata angin. untuk penyebaran garam lebih baik dilakukan pada pukum 07.30 karena pada saat inilah proses pembentukan awan berlangsung. setelah garam yang ditabur terbentuk awan-awan kelompok kecil, pada pukul 12.00 ditaburkan urea agar awan kecil tersebut menjadi kelompok awan besar yang kehitam-hitaman. Perhitungan lainnya yang harus diperhatikan adalah faktor cuaca yang memenuhi persyaratan, yaitu yang mengandung uap atmosphere dengan kelembapan minimal 70%. Kelembapan harus memadai sehingga waktu inti kondensasi (NaCl dan CaCl2) disebarkan akan segera terjadi kondensasi. Kecepatan angin juga di daerah itu sekitar 10 knots dan tak terdapat lapisan inversi di udara.

Mengapa harus berbahan dasar garam. Karena Sifat NaCl (garam dapur): berbentuk kristal, mudah larut dalam atmosphere (36 g/100 ml atmosphere daripada 20°C), dalam bentuk bubuk bersifat higroskopis, banyak terdapat di udara (dari atmosphere laut), campuran NaCl dengan es cair mencapai -20°C. Sedangkan CaCl2 adalah berbentuk kristal.
Garam dapur yang dimaksud bukanlah garam meja, tetapi adalah garam yang mempunyai sifat higroskopis yang jauh lebih besar daripada garam meja, sehingga garam meja tak dapat digunakan.